AMANAT
Sesungguhnya kata amanat diambil dari kata aman. Karena dengan amanat itu dijamin terhindarnya tindakan-tindakan yang menghalangi hak. Sedang sebaliknya adalah khianat dari kata Khun yaitu kekurangan. Karena sesungguhnya bila kamu menghianati seorang dalam suatu hal, maka berarti kamu telah mengurangi apa yang semestinya diterima. Bersabda Rasulullah Saw.,”Maka tempat akhir tipu daya dan khianat adalah di neraka.” Nabi Muhammad Saw. Bersabda, ”Barangsiapa yang bergaul dengan sesama manusia tanpa menganiaya mereka serta berbicara dengan mereka tanpa kebohongan, maka sempurnalah harga diri, kehormatan dan keadilan. Orang seperti itu wajib dijadikan Saudara.”
Berkata Al-Qurthubi, “ Amanat itu menyeluruh kepada semua kegiatan agama menurut yang sahih dari pendapat-pendapat ulama.” Pendapat inilah yang dikemukakan kebanyakan ulama dan masih berbeda mengenai perincian bagiannya. Dalam hal ini Ibnu Mas’ud berkata, “Dia adalah mengenai amanat harta seperti benda-benda titipan dan yang lainnya.” Diriwayatkan dari dia, bahwa sesungguhnya amanat itu ada dalam semua kewajiban, tetapi yang paling berat nilai amanatnya adalah harta. Berkata Ibnu Umar,”Pertama kali yang diciptakan Allah dari manusia adalah farjinya.” Dia berfirman, “ ini adalah sebuah amanat, yang Aku menitipkannya padamu. Janganlah engkau memakainya kecuali dengan haq. Kalau engkau menjaganya Aku akan menjagamu.” Jadi farji, telenga, mata, lidah, perut, tangan dan kaki adalah amanat. Tiada keimanan bagi orang yang tidak dapat dipercaya.”
Al Hasan berkata, “ Sesungguhnya amanat telah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, mereka bergoncang hebat bersama apa yang ada pada mereka. Allah berfirman kepada mereka, ” Kalau engkau berbuat baik, tentu Aku menyelamatkanmu dan apabila berbuat jahat, tentu Akan menyiksamu.” Mereka berkata, ”Tidak.” Mujahid berkata , ” setelah Allah menciptakan Adam, Dia menyodorkan amanat itu padanya dan berfirman dengan firman itu.” Lalu dia berkata,” Aku benar-benar telah memikulnya.” Suatu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa penyodoran amanat ini pada langit, bumi dan gunung-gunung adalah tawaran yang memberikan kebebasan memilih bukan sodoran penetapan. Seandainya Allah menetapkan pada mereka, tentu mereka tidak dapat menolak untuk memikulnya. Al-Qaffal dan yang lainnya berkata, ” Penawaran dalam ayat ini adalah semacam kiasan. ”Yakni sesungguhnya langit, bumi, dan gunung-gunung dengan keadaannya yang begitu besar, mungkin untuk membebaninya tentu berat bagi mereka yang berkalung hukum-hukum syariat, karena di dalamnya terdapat pahala dan siksa. Jadi taklif (pemberian beban) adalah suatu hal yang besar, pada dasarnya langit, bumi dan gunung-gunung merasa tidak sanggup untuk menerimanya dan Allah benar-benar telah membebankannya atas manusia. Allh Swt. Berfirman :
”Dan dipikullah amanat itu oleh manusia.”
Yakni Adam menyanggupi untuk melaksanakannya amanat itu setelah ditawarkan padanya dalam alam dzur, yaitu ketika semua keturunannya keluar dari punggungnya dan diambil perjanjian atas mereka.
”Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
(QS. AL – Ahzab:72)
Artinya dalam memikul amanat itu manusia sangat zalim kepada dirinya sendiri dan sangat bodoh terhadap kadar dan ukuran sesuatu yang dimasukinya (dilakukannya) atau dia tidak tahu terhadap urusan Tuhannya.
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, ” Amanat di hadapkan kepada Adam dan katakan,’ Ambilah ia beserta apa yang ada didalamnya’ kalau engkau berbakti, Aku akan mengampuni dan kalau engkau durhaka Aku akan menyiksamu.” Adam berkata,” Aku menerimanya beserta apa yang ada didalam ’ kalau engkau berbakti , Aku akan mengampunimu dan kalau engkau durhaka Aku akan menyiksamu.” Adam berkata, ” Aku menerimanya beserta apa yang ada dalam isinya. ” Lalu tidak berselang lama, kecuali antara waktu asar sampai malamh dihari itu juga, ternyata dia telah makan buah syajarah. Seandainya tidak diikuti dengan rahmat-Nya, Allah menerima tobatnya dan memberinya hidayah maka entah apa yang terjadi! Kata amanat adalah Musytaq (bersumber) dari kata iman. Barangsiapa yang memelihara amanat Allah, tentu Allah akan memelihara imannya. Berkata seorang penyair :
”Celaka bagi orang yang puas dengan khianat secara cepat dan berpaling dari sikap menjaga amanat di lambungnya. Dia membuang jauh sikap keberagamaan dan harga diri, lalu silih berganti bencana masa datang padanya.” (berkata yang lain) : ”Alangkah rusaknya perangai orang yang puas dengan khianat, dia tidak akan melihat kecuali kejadian-kejadin yang memukul. Tidak henti-hentinya bencana akan turun selama-lamanya pada orang yang culas dalam menjaga kepercayaan atau orang yang merusak (mengingkari) perjanjian.”
Rasulullah Saw. Bersabda, ”Seorang mukmin ditabiatkan dengan segala macam budi pekerti selain khianat dan bohong.” Bersabda Rasulullah Saw.,”Tidak putus-putusnya umatku dalam kebaikan selagi mereka tidak memandang amanat sebagai keuntungan dan sedekah sebagai kerugian. Nabi Muhammad Saw. Bersabda, ”Sampaikanlah amanat pada orang yang memberi amanat kepadamu dan jangan menghianati orang yang telah menghianatimu.”
Di dalam dua kitab Sahih Abu Hurairah meriwayatkan, sesungguhnya Rasulullah Saw. Telah bersabda, ” tanda orang munafik ada tiga, ’Kalau berbicara ia bohong, kalau berjanji dia akan mengingkari dan diberi amanat dia akan berkhianat’. Memelihara amanat adalah sifat dari para malikat Muqarrabin, para abi dan para Rasul kebiasaan orang-orang yang berbuat baik dan bertakwa. Allah Swt. Berfirman : ”Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk menyampaikan beberapa amanat kepada orang yang memilikinya.” (QS. An-Nisa’:58)
Ulama-ulama ahli tafsir berkata, ” Ayat ini mencakup banyak dari pokok-pokok agama dan orang yang dimaksud dengan ayat ini adalah keseluruhan orang-orang mukallaf , baik penguasa atau bukan. Wajib bagi penguasa-penguasa berbuat adil pada orang yang teraniaya dan memberitahukannya hak-haknya. Hal itu adalah sebuah amanat. Menjaga harta benda orang-orang islam, lebih-lebih anak yatim itu juga kewajiban mereka. Wajib bagi para ulama mengajarkan kepada orang-orang awam hukum-hukum agama mereka, hal itu adalah amanat. Allah telah memilih para ulama itu untuk menjaganya. Wajib atas orang tua memelihara anaknya dengan pendidikan yang baik, karena anak adalah amanat baginya. Bersabda Nabi Muhammad Saw. ”Kamu semua adalah penjaga dan akan ditanya mengenai barang yang dijaga.”
Diriwayatkan dari Salmah, dia berkata, ”Suatu ketika kami sedang duduk di samping Nabi Muhammad Saw. Tiba-tiba tampak sebuah jenazah dibawa untuk disalatkan. Bersabdalah Nabi,”Apakah dia menanggung Hutang?” Mereka menjawab, ”Tidak.” lalu Nabi mensalatkannya. Kemudian dibawa lagi sebuah jenazah yang lain dan bersabda beliau,”Adakah dia memiliki hutang ?” Mereka menjawab ”Ya.” beliau bersabda, ” Apakah dia meninggalkan sesuatu.” ? Merka menjawab, ” Tiga Dinar.” Lalu beliau menyalatkannya. Dibawa lagi jenazah yang ke tiga dan besabdalah beliau, ”Adakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, ”Ya.” Beliau menjawab, ”Apakah dia meninggalkan sesuatu ?” Mereka menjawab, ”Tidak.” Beliau bersabda,”Salatkanlah kawanmu itu.” Diriwayatkan dari Qatadah ra., dia berkata,”Ada seorang laki-laki berkata, ’Ya.’ Rasulullah, ceritakanlah padaku kalau aku terbunuh di dalam sabilillah, bersabar, mencari pahala, menghadap dan tidak melarikan diri, adakah Allah menghapus dosa-dosa dariku?” Beliau bersabda, ”Ya” setelah laki-laki itu berlalu beliau memanggilnya lagi dan bersabda, ” Allah akan mengampuni kepada orang yang syahid setiap dosa kecuali hutang.”
Sumber : Dibalik ketajaman mata hati (Imam al gazali)
Senin, 18 Februari 2008
Khutbah Terakhir Nabi Muhammad S.A.W
Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW
(Khutbah ini disampaikan pada 9 Dzulhijjah 10 H dilembah Uranah, Arafah)
Ya, saudara-saudaraku, perhatikan apa yang akan aku sampaikan, aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih berada di antara kalian. Karenanya dengarkan baik-baik apa yang kukatakan ini dan sampaikan kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini.
Ya, saudara-saudaraku, seperti kita ketahui, bulan ini, hari ini dan kota ini adalah suci, karenanya pandanglah kehidupan dan milik setiap orang Muslim sebagai kepercayaan yang suci. Kembalikan barang-barang yang dipercayakan kepadamu kepada pemilik yang sebenarnya.
Jangan kau lukai orang lain sebagaimana orang lain tidak melukaimu. Ingatlah bahwa kamu akan bertemu dengan Allah SWT dan Dia akan memperhitungkan amalanmu dengan sebenar-benarnya.
Allah SWT telah melarangmu memungut riba, karenanya mulai saat ini dan untuk seterusnya kewajiban membayar riba dihapuskan.
Waspadalah terhadap syaitan, demi keselamatan Agamamu. Dia telah kehilangan semua harapannya untuk membawa kalian pada kesesatan yang nyata, tapi waspadalah agar tidak terjebak pada tipuan halusnya.
Ya, saudara-saudaraku, adalah benar kamu mempunyai hak tertentu terhadap isteri-isterimu, tapi mereka juga mempunyai hak atas dirimu. Apabila mereka mematuhi hakmu maka mereka memperoleh haknya untuk mendapat makanan dan pakaian secara layak. Perlakukanlah isteri-isterimu dengan baik dan bersikaplah manis terhadap mereka, karena mereka adalah pendampingmu dan penolongmu yang setia. Dan adalah hakmu untuk melarang mereka berteman dengan orang-orang yang tidak kamu sukai, dan juga terlarang melakukan perzinahan.
Ya, saudara-saudaraku, dengarkanlah baik-baik, sembahlah Allah, Shalat lima kali dalam sehari, laksanakan Puasa selama bulan Ramadhan, dan tunaikanlah Zakat, laksanakan ibadah Haji bila mampu.
Ketahuilah bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Kamu semua adalah sederajat. Tidak ada perbedaan satu terhadap yang lain kecuali Ketaqwaan dan Amal Shalih. Ingatlah, suatu hari kamu akan menghadap Allah dan harus mempertanggung jawabkan semua amalanmu. Karena itu berhati-hatilah jangan menyimpang dari jalan kebenaran setelah kepergianku nanti.
Ya, saudara-saudaraku, tidak akan ada Nabi atau Rasul sesudahku dan tidak akan ada agama lain yang lahir. Karenanya simaklah baik-baik ya Saudaraku, dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu, bahwa aku meninggalkan dua pusaka, Al-Qur'an dan contoh-contohku sebagai As-Sunnah dan bila kalian mengikutinya tidak mungkin akan tersesat.
Siapa yang mendengarkan perkataanku ini wajib menyampaikannya kepada yang lain dan seterusnya dan mungkin yang terakhir memahami kata-kataku ini bisa lebih baik dari yang langsung mendengarkan.
Demi Allah aku bersaksi, bahwa aku telah menyampaikan ajaran-Mu kepada umat-Mu ya Allah.
(Khutbah ini disampaikan pada 9 Dzulhijjah 10 H dilembah Uranah, Arafah)
Ya, saudara-saudaraku, perhatikan apa yang akan aku sampaikan, aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih berada di antara kalian. Karenanya dengarkan baik-baik apa yang kukatakan ini dan sampaikan kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini.
Ya, saudara-saudaraku, seperti kita ketahui, bulan ini, hari ini dan kota ini adalah suci, karenanya pandanglah kehidupan dan milik setiap orang Muslim sebagai kepercayaan yang suci. Kembalikan barang-barang yang dipercayakan kepadamu kepada pemilik yang sebenarnya.
Jangan kau lukai orang lain sebagaimana orang lain tidak melukaimu. Ingatlah bahwa kamu akan bertemu dengan Allah SWT dan Dia akan memperhitungkan amalanmu dengan sebenar-benarnya.
Allah SWT telah melarangmu memungut riba, karenanya mulai saat ini dan untuk seterusnya kewajiban membayar riba dihapuskan.
Waspadalah terhadap syaitan, demi keselamatan Agamamu. Dia telah kehilangan semua harapannya untuk membawa kalian pada kesesatan yang nyata, tapi waspadalah agar tidak terjebak pada tipuan halusnya.
Ya, saudara-saudaraku, adalah benar kamu mempunyai hak tertentu terhadap isteri-isterimu, tapi mereka juga mempunyai hak atas dirimu. Apabila mereka mematuhi hakmu maka mereka memperoleh haknya untuk mendapat makanan dan pakaian secara layak. Perlakukanlah isteri-isterimu dengan baik dan bersikaplah manis terhadap mereka, karena mereka adalah pendampingmu dan penolongmu yang setia. Dan adalah hakmu untuk melarang mereka berteman dengan orang-orang yang tidak kamu sukai, dan juga terlarang melakukan perzinahan.
Ya, saudara-saudaraku, dengarkanlah baik-baik, sembahlah Allah, Shalat lima kali dalam sehari, laksanakan Puasa selama bulan Ramadhan, dan tunaikanlah Zakat, laksanakan ibadah Haji bila mampu.
Ketahuilah bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Kamu semua adalah sederajat. Tidak ada perbedaan satu terhadap yang lain kecuali Ketaqwaan dan Amal Shalih. Ingatlah, suatu hari kamu akan menghadap Allah dan harus mempertanggung jawabkan semua amalanmu. Karena itu berhati-hatilah jangan menyimpang dari jalan kebenaran setelah kepergianku nanti.
Ya, saudara-saudaraku, tidak akan ada Nabi atau Rasul sesudahku dan tidak akan ada agama lain yang lahir. Karenanya simaklah baik-baik ya Saudaraku, dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu, bahwa aku meninggalkan dua pusaka, Al-Qur'an dan contoh-contohku sebagai As-Sunnah dan bila kalian mengikutinya tidak mungkin akan tersesat.
Siapa yang mendengarkan perkataanku ini wajib menyampaikannya kepada yang lain dan seterusnya dan mungkin yang terakhir memahami kata-kataku ini bisa lebih baik dari yang langsung mendengarkan.
Demi Allah aku bersaksi, bahwa aku telah menyampaikan ajaran-Mu kepada umat-Mu ya Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)
